Minggu, 29 April 2012

kepada pintu

Setiap sepatu yang menunggu di depan tubuh mu adalah harapan. Kau biarkan mereka duduk berlama lama sambil mengunyah permen kacang. Sesekali kau sodorkan koran. Biar tamu mu itu cukup detail mengamati barisan iklan iklan. Atau pepohonan. Pepohonan iklan. Barangkali tamu mu itu butuh secangkir teh hangat tanpa gula. Mungkin mereka diabet. Karena tak tahu harus bilang apa jika mereka sakit mencret. Lama lama juga mereka bosan menanti mu. Menatap mu. Dengan mata kotor. Mata debt collector. Di tulislah sejumlah puisi. Barang satu dua di teras mu. Teras mu jadi kotor. Kemproh. Mirip wc umum pengungsian. Sana sini banyak kata kata makian. Umpatan. Sindiran.
Sepatu sepatu karet. Otak mereka --mungkin-- sudah lecet tebakmu. Siapa suruh menunggu. Wong menunggu itu pekerjaan paling membosankan. Tentu. Semua tahu itu. Apalagi bikin syair macam segala. Apa mau jadi penyair kelas kambing hah. 
   Tetapi lihatlah. Ada sepatu kotor di sana. Barangkali bekas orang lain yang sudah bosan dengan sepatu itu. Ayolah biarkan dia masuk. Tak apalah dia jelek. Butut. Uzur. Bau kentut. Barangkali ada sisa sisa mimpi mu kemaren. Meloncat di situ. Di  lubang sepatu butut itu. Biar kan dia masuk. Jangan bikin lama menunggu. Pantatnya nanti ngilu. Aduh.


                                                     November 20, 2010 at 1:31am ·

Tidak ada komentar:

Posting Komentar