Setiap sepatu yang menunggu di depan tubuh mu adalah harapan. Kau
biarkan mereka duduk berlama lama sambil mengunyah permen kacang. Sesekali kau sodorkan koran. Biar tamu mu itu cukup detail mengamati
barisan iklan iklan. Atau pepohonan. Pepohonan iklan. Barangkali tamu mu
itu butuh secangkir teh hangat tanpa gula. Mungkin mereka diabet. Karena tak tahu harus bilang apa jika mereka sakit mencret. Lama lama
juga mereka bosan menanti mu. Menatap mu. Dengan mata kotor. Mata debt
collector. Di tulislah sejumlah puisi. Barang satu dua di teras mu. Teras mu jadi kotor. Kemproh. Mirip wc umum pengungsian. Sana sini
banyak kata kata makian. Umpatan. Sindiran.
Sepatu sepatu karet. Otak mereka --mungkin-- sudah lecet tebakmu. Siapa suruh menunggu. Wong
menunggu itu pekerjaan paling membosankan. Tentu. Semua tahu itu. Apalagi bikin syair macam segala. Apa mau jadi penyair kelas kambing
hah.
Tetapi lihatlah. Ada sepatu kotor di sana. Barangkali
bekas orang lain yang sudah bosan dengan sepatu itu. Ayolah biarkan dia
masuk. Tak apalah dia jelek. Butut. Uzur. Bau kentut. Barangkali ada
sisa sisa mimpi mu kemaren. Meloncat di situ. Di lubang sepatu butut
itu. Biar kan dia masuk. Jangan bikin lama menunggu. Pantatnya nanti
ngilu. Aduh.
November 20, 2010 at 1:31am ·
Tidak ada komentar:
Posting Komentar