Minggu, 29 April 2012

tamu teras depan

hujan
barangkali sudah limabelas menit ia duduk di teras depan
menunggu si tuan rumah membukakan pintu
dan bertanya kabar atau suatu pesan

hujan
tetapi ia menolak pulang
enggan beranjak dari depan pintu teras
dan terus memainkan rambutnya; yang panjang menyentuh
setiap sudut kaca jendela
hujan
lelah ia mengetuk pintu; lalu mengutuki rumah batu
ia terlanjur datang di antar gulungan hitam rambut nenek sihir
yang sudi menjemputnya bila ia akan pulang

                                                     October 13, 2010 at 11:41pm ·

kepada pintu

Setiap sepatu yang menunggu di depan tubuh mu adalah harapan. Kau biarkan mereka duduk berlama lama sambil mengunyah permen kacang. Sesekali kau sodorkan koran. Biar tamu mu itu cukup detail mengamati barisan iklan iklan. Atau pepohonan. Pepohonan iklan. Barangkali tamu mu itu butuh secangkir teh hangat tanpa gula. Mungkin mereka diabet. Karena tak tahu harus bilang apa jika mereka sakit mencret. Lama lama juga mereka bosan menanti mu. Menatap mu. Dengan mata kotor. Mata debt collector. Di tulislah sejumlah puisi. Barang satu dua di teras mu. Teras mu jadi kotor. Kemproh. Mirip wc umum pengungsian. Sana sini banyak kata kata makian. Umpatan. Sindiran.
Sepatu sepatu karet. Otak mereka --mungkin-- sudah lecet tebakmu. Siapa suruh menunggu. Wong menunggu itu pekerjaan paling membosankan. Tentu. Semua tahu itu. Apalagi bikin syair macam segala. Apa mau jadi penyair kelas kambing hah. 
   Tetapi lihatlah. Ada sepatu kotor di sana. Barangkali bekas orang lain yang sudah bosan dengan sepatu itu. Ayolah biarkan dia masuk. Tak apalah dia jelek. Butut. Uzur. Bau kentut. Barangkali ada sisa sisa mimpi mu kemaren. Meloncat di situ. Di  lubang sepatu butut itu. Biar kan dia masuk. Jangan bikin lama menunggu. Pantatnya nanti ngilu. Aduh.


                                                     November 20, 2010 at 1:31am ·

Jumat, 27 April 2012

burung unta di kota kami

kau tahu. sebab aku tak punya rumah.
aku beranjak dari sajak ke sajak.
petak ke petak.
dari gerbong kereta stasiun.
dari mula mimpi dihimpun.
dusun demi dusun.

tetapi apa sebab rumah kami di gusur.
tempat kami bermula tidur.
mendengarkan nenek bertutur,
sambil membuatkan ketupat janur.
 sampai berlindung dari guntur. 

bunda jadi kehilangan dapur.
bunga jadi putih mengapur.

kami dicekam lumpur..



                                                                   December 8, 2010 

Sabtu, 14 April 2012

Andaman


di samudra birumu menyala.
seanggun dian berkobar.

jejak jejak teguh pelaut tangguh.
samudramu yang menyimpan peluh.



: "akulah sampan yang akan membelah samudramu,
dan memecah dendam karang pantaimu"


                                                                              May 19, 2010 at 2:54am

Gaza, kemarin di radio.

Ada alunan symphoni tangis.
Dibekas reruntuhan tembok toko Al Azis.
Aroma mesiu begitu syahdu, menyatu di meja makan siang para serdadu.
Tank tank Israel merayap nan anggun membelah nadi Gaza. Memecah khusyuknya senja.
Parade mengusung kereta kematian di atas catwalk.
Dan gaun gaun bertuliskan tinta merah darah.

Malik, bocah Gaza empat tahun hanya melambaikan senyum pada para serdadu.
Ia terbangun mendengar desing peluru mengetuk pintu rumahnya.


''Ibu, kenapa tank tank itu menuju rumah kita?

Apa kita mengundang mereka makan malam?''
atau...

''mereka akan pesta kembang api di depan meja makan kita,Bu!''


                                                                                   June 2, 2010 at 3:12am ·

Selasa, 10 April 2012

Krematorium Untuk Kalender

besok kalender akan mati. mati seperti layaknya seorang manusia. ia akan dijemput malaikat pencabut nyawa. entah di atas ranjang tidurnya. atau ketika ia lupa mengunci mulutnya. dan malaikat masuk lewat lubang mulut busuk itu. mulut yang sudah penuh kotoran kotoran, kerak kerak dan sisa sisa ludah kering yang bikin dinding selalu muram. tampak hitam sehitam dinding dinding mulutnya bau pesing.


*
konon ibu pernah bilang jangan taruh si kalender dekat dekat dengan cermin mu di kamar. sebab ia suka memperolok mu saat bercermin. sebab ia keterlaluan tolol hampir hampir tak ada diksi yang tepat mewakili tolol nya itu. sebab ia cuman bisa memperolok mu ketika wajah mu sama tolol nya dengan dia. si kalender cuman memperolokmu ketika kamu lupa tanggal bulan atau tahun. sebab ia cuman pandai seperti mesin hitung. juga suka melipat tangannya saat kamu benar benar tolol. menaruh apa saja di bibir mulutnya yang lebar selebar lcd komputer.

*
tetapi aku juga tidak terlalu sedih. bahkan bisa saja aku senang kepayang ketika tahu besok kalender akan mati. mati seperti layaknya seorang manusia. ia akan dijemput malaikat pencabut nyawa. entah di atas ranjang tidurnya. atau ketika ia lupa mengunci mulutnya. dan malaikat masuk lewat lubang mulut busuk itu. mulut yang sudah penuh kotoran kotoran, kerak kerak dan sisa sisa ludah kering yang bikin dinding selalu muram. tampak hitam sehitam dinding dinding mulutnya bau pesing.


*
malam ini aku rupanya sedih tahu besok kalender akan mati. mati dalam arti sebenarnya. bukan seperti mati nya televisi. sebab siapa yang akan memperolokku di depan cermin lagi. sebab siapa yang akan meludahiku ketika aku benar benar tolol, lupa menaruh apa saja di mulutnya. mulutnya yang bau pesing hangat dan kerak hitam jelaga. ah bikin aku susah tidur dan akhirnya juga susah buang air besar.