ia selamanya tak pernah punya rumah, tak punya rumah.
cuman kaleng blek bekas kue lebaran ia pernah singgah di situ; tulisnya di balik kartu pos
yang ia letakkan di bawah lampu kota di antara gedung gedung plasa.
juga wangi harum jemari musim hujan.
tetapi entah ia tak pernah temukan kotak pos di situ; juga rumah ia pernah singgah --semusim.
mungkin kartu pos itu leleh terbakar matahari, atau juga
terbawa banjir yang sering mampir ke situ.
suatu kali ia pernah bertanya tentang kartu posnya, kepada pak pos.
ia sobek seperempat sayapnya -- dengan rasa ngilu dan rintih perih--. ia sobek menjadi
kotak persegi panjang. mirip dengan kartu pos. transparan. anggun. ia tulis lagi kabar terakhir tentang
kartu posnya yang pernah hilang; ia letakkan di jembatan penyebrangan. agar semua yang lewat bisa membacanya.
tetapi kartu posnya menolak untuk ia tulisi.
dan ingin terbang menuju rerontokan pelangi pasi.
Surabaya, 22 May 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar