Senin, 27 Februari 2012

Cumulusnimbus IV

                                          : menara ketenangan

di sinilah aku berdansa; dengan giwang parsi, iringan syair dalu, 
lengkung cahaya kemala --tempo langsam sang purnama--,
juga gugusan bintang di selengan rasi Cassiopeia.

jatuh ke udara karbon; terlampau monoton,
 senyap perkusi yang muskil, tetapi ku larut tangan cipta; sebuah
 konstelasi percakapan kami,
-- aku dan angin---

kemudian hening; pintu pintu terkunci, sebaris doa untuk
yang akan mati,
dan aku pejam di atas menara majusi.

                                                                         Saturday, May 21, 2011 at 1:27am

Minggu, 26 Februari 2012

selatan wonokromo

ia yang menunggu penghabisan;

    seperti bulir jejak waktu dilepas
dari sol sepatumu. kematian adalah sajak romantis sebelum tanda titik mengakhiri:
nafasmu.

ia yang menanti sebuah ciuman; sebuah kecupan yang memberinya tanda:
di pintu sorga. tuhan adalah panggilan jiwa jiwa yang berdosa.

ia yang berdoa sepanjang jalan ini; tangan tangan suci yang menikam
setiap hening pejalan malam.

ia yang setiap menyimak derit cericit loko sehabis stasiun, memberi tabik
ketika hujan pertama turun,

ia, di pucat langit senja wonokromo.

Selasa, 21 Februari 2012

mendengar surabaya meringkik

mendengar surabaya meringkik kesakitan seperti  seekor kuda cokelat, tua, lusuh --berjalan sendiri dan menyeret,
melewati jalan jalan aspal kotor-- ditubuhnya ada berbagai macam hiasan iklan dan logo bank; sebuah perempuan dengan fesyen gila mengumbar paha, di seberang jalan seorang lagi menampar sore dengan belahan dada.

tentunya menarik mendengar surabaya meringkik seperti seekor kuda kesakitan; ia lalu lalang di sepanjang jalan aspal menyeret jutaan nasib orang ---juga nasib nasib yang menunggu di bangku terminal---.
tubuhnya yang lusuh dan penuh borok, dipaksa menarik kereta kereta beton acapkali liar dan sombong, juga rakus. di atas kereta kereta beton ada lusinan bahkan ratusan tumpukan apartemen apartemen yang mengungkung gerak tubuhnya.

apakah kamu pernah mendengar surabaya meringkik kesakitan? seperti seekor kuda cokelat tua dan lusuh? banyak borok di tubuhnya, juga logo logo bank? atau mungkin logo logo restoran cepat saji? pernahkah kamu??

bagaimana kalau kita sekarang ingin mendengar surabaya meringkik kesakitan seperti seekor kuda cokelat tua dan lusuh?
tentu bisa saja kamu berjalan sendiri. coba matikan televisi. keluarlah rumah. jangan hiraukan ocehan fesbuk dan twitter. keluarlah kemana saja kamu suka. ke jalan protokol boleh. ke taman taman kota boleh. atau ke plasa plasa boleh. ambilah sisi kiri untuk berjalan di sepanjang trotoar. nanti kamu suatu saat akan temukan suara ringkikan seekor kuda kesakitan. o malang sungguh.

tetapi mendengar surabaya meringkik kesakitan seperti seekor kuda cokelat tua dan lusuh akan melewati halaman depan rumah kamu setiap hari. macam tukang sayur yang tanpa permisi.

Minggu, 19 Februari 2012

Kartu Pos Seekor Capung

ia selamanya tak pernah punya rumah, tak punya rumah.
cuman kaleng blek bekas kue lebaran ia pernah singgah di situ; tulisnya di balik kartu pos
yang ia letakkan di bawah lampu kota di antara gedung gedung plasa.

                                                                      juga wangi harum jemari musim hujan.

tetapi entah ia tak pernah temukan kotak pos di situ; juga rumah ia pernah singgah --semusim.
mungkin kartu pos itu leleh terbakar matahari, atau juga
terbawa banjir yang sering mampir ke situ.

                                            suatu kali ia pernah bertanya tentang kartu posnya, kepada pak pos.

ia sobek seperempat sayapnya -- dengan rasa ngilu dan rintih perih--. ia sobek menjadi
kotak persegi panjang. mirip dengan kartu pos. transparan. anggun. ia tulis lagi kabar terakhir tentang
kartu posnya yang pernah hilang; ia letakkan di jembatan penyebrangan. agar semua yang lewat bisa membacanya.

                                                                         tetapi kartu posnya menolak untuk ia tulisi.
dan ingin terbang menuju rerontokan pelangi pasi.





                                                                        Surabaya,  22 May 2011

Sabtu, 18 Februari 2012

trampolin di sekitar hari ulang tahunmu

bocah bocah berlari menabrak trampolin
yang terbuat dari karung karung bekas
mereka mengubur mimpi mereka
di bawah jendela tempat biasa
mereka mengintip lingsirnya matahari
dari sembunyi senyap akut
mereka mengasah jemari-kuku kalut
tanah tanah yang tak pernah di lihat;
cermin cermin yang melahirkan mereka
dari setetes sperma dan timbunan jutaan ton
sel mimpi, lalu hilang dalam sekon
rudapaksa jemari-kuku mereka
bocah bocah menyusun kidung mereka
dari embun yang keluar dari rahim se ekor
kucing tua; lusuh dan duduk mencakung
di depan restoran cina di lorong plasa

bocah bocah terus menabrak trampolin
di setiap hari ulang tahunmu. terus dan selalu

                                                                                     June 1, 2011  1:40am

Jumat, 17 Februari 2012

kereta tuan Albert

Ia duduk mencakung pada bangku stasiun
di telapak tangannya terlipat sebuah bangkai surat
dengan perangko dari sayap capung,

asing warna dinding stasiun, juga sebuah jam tua;
ada sebuah ritma detak yang ia simpan sebagai
pemanis kopi pagi itu: masa lalu.

kemudian ia berdoa, akan selalu seperti ini;

tuhan, jangan jadikan secangkir kopi ini yang terakhir

jadikan segala yang pernah hitam menjadi putih,
seputih cahaya matahari pagi itu merayap
ke ruang tunggu stasiun.

juga doa adalah sepanjang rel ini, menuju
rumahku seperti ketidakterbatasan waktu
bagimu.

warna dinding stasiun semakin asing, pada detak ritma
jam tua stasiun  yang blur, ketika tiba deru mesin,
pelan mendesis, lalu langsir.

dan ia meninggalkan bangku stasiun; ia memberi hormat ---seperti
prajurit yang akan berperang-- juga ia takjub melihat
rerontokan bulu sayap yang menghambur di ruang kemudi.

                                                                                 July 11, 2011

di simpang api berpesta

orang orang mengutuki api berpesta
yang sedang  asyik dansa dansi
pada sebuah sore kemarau pasi

gaun mu aku lihat menjulang
dari
sebuah restoran cepat saji
seperti jubah gipsi;

kelam nan anggun
tenang dan tekun,

mengiringi rapuh bangun:
sebuah prosesi kematian

---biarkan kami berdansa, seperti Rumi
yang mencintai Tuannya, seperti bumi
yang mengemas samudra,

api abadi prosesi pembakaran dansa kami


                                                                             September 29, 20112:01am ·