Jumat, 20 Mei 2011

cumulusnimbus II


percakapan kami tinggal ampas; daun daun merah marun,
buku harian lawas,
dan selarik sajak di jaket katun.

kemudian tubuh mu kau goyangkan,
ke segala haluan,
tanpa batas tapal
seperti balerina dalam resital.


tetapi di taman; taman yang pernah
kami singgahi, dan aku tak pernah mendengarmu,
mendengungkan sonata purnama
ketika bulan menghianati, lalu
bergegas menusukkan senyap perkusi.

pertemuan kami hanya pasir; yang memenuhi gurun gurun,
ambang rindu berdesir,
dari kehampaan laun.



March 29, 2011 at 1:57am

kidung paus biru ku


paus biru bernyanyi tak
merdu gemeretak kaki sang ombak

di tepian sebuah kanal kapal
bulan asin semenanjung asing

jejak bangkai matahari dilukis
anak laut ku menggerus rumah amis

kidung tumpahkan bejana malam
iringi tidur sang kapal karam



February 11, 2011 at 2:11am

Minggu, 08 Mei 2011

bocah bocah yang kehilangan kepala



bocah bocah yang mengumpulkan senja. melipatnya di tas ransel mereka. melingkar di dalam gerbong kereta tak terawat. di belakang stasiun kota.
jejalanan basah masih tercium. bau sehabis hujan.
hujan tadi sore.

sore yang seperti
bocah bocah  kehilangan kepala.
yang kian enggan. menangkap capung.

sebab sore telah memberikan seorang ibu peri cantik. yang selalu
membuat capung tidur di ranjangtidurnya.

stasiun semakin asing. dengan kereta kereta sinema bocah bocah
kehilangan gasing.



December 24, 2010 at 12:11am

sandal japit, dan rembulan berwarna ungu



kata penyair itu, di larik puisi bututnya, rembulan kecut mengkerut. wajahnya bekas bisulan menyembul terlihat di loteng rumahku. antik.
tetapi ia bilang, "rembulan mengalahkan kecantikan setiap lonte yang pernah kelon dengan ku" sambil terus menghisap samsu.

"ah, sesekali rembulan berwarna ungu" celetukku. "dan bisa saja, atau mungkin besok malah merah jambu".

"apa memang warna rembulan keluar dari mesin foto kopi?" timpal penyair itu, dan kau bisa seenaknya meng-copypaste-kannya.

---ia tertawa ---
---samsu makin pahit---
---kopi sedikit asam---
---warna rembulan semakin ungu di mataku---

kata puisi penyair itu, lagi, sandal japit adalah pelukan romantis ketika ritmis hujan gerimis tak pernah mampir lagi,
di atas rembulan manggis.

January 21, 2011 at 12:25am

gerbong gerbong kereta yang perkasa



gerbong gerbong kereta yang perkasa
hilir mudik keluar masuk kota
stasiun demi stasiun
menjemput harapan para
penunggu bangku yang lama terpaku
angan dan lamun

tetapi apa sebenarnya yang kau bawa untukku?

siul yang jauh
susul menyusul gerbongmu menempuh
jejalanan berdebu dan lusuh
petang tiba di ketiak kotaku
yang cerewet dan angkuh

tetapi apa sebenarnya yang kau bawa untukku?

malam kemudian tubuhmu tetap perkasa
peluh yang berkarat mengkilat
di seberang plasa dan di bawah pohon iklan
sabar mengantarkan para penunggu bangku stasiun pulang


tetapi apa sebenarnya yang kau bawa untukku?

malam yang klise dengan sedikit
cahaya bulan usai gerimis
lagu para pengamen cilik yang
mendadak romantis
dan secangkir kopi yang belum juga habis

tetapi apa sebenarnya yang kau bawa untukku?

siulmu lenyap di udara karbon
hanya meresap ke dinding dinding beton
di puncak pagi setipis karton



February 4, 2011 at 10:13pm